GKI Harapan Jaya

Sunday, February 15, 2009

Bultmann, Yesus Sejarah dan Kebangkitan


by Alexander Urbinas

I. Pendahuluan: Sekilas Mengenai Bultmann dan Latar Belakangnya
Pemahaman Gereja dan teologi tradisional yang mengambil pengertian-pengertian filsafat Yunani, mengakibatkan interpretasi akan penyataan dan wahyu Allah sebagai sesuatu yang terpisah dari kejadian-kejadian di dalam dunia ini. Ketika dunia memasuki babakan baru, yakni dunia modern, pandangan teologis demikian digoyahkan oleh model interpretasi historis baru, yang kemudian disebut sebagai metode historis kritis yang membunuh tiap bentuk yang supranaturalistik. Sejarahlah yang menentukan nasib teologi. Hal ini disebabkan proses sekularisasi, maka pemikiran historis memiliki tempat yang radikal dan universal. Manusia modern sudah melepaskan diri dari paradigma tradisional yang memandang manusia sebagai personal yang berdiri di atas dua landasan (atas, bawah), dan lebih melihat bahwa dirinya berdiri di atas satu landasan, yaitu bumi ini.  
Dari latar belakang itu muncullah seorang yang berusaha keras untuk dapat menjadikan berita Alkitab dapat dimengerti di dalam perspektif pemikiran historis yaitu, Rudolf Bultmann yang lahir pada tahun 1884. Tujuan teologis yang dipakai dalam arah gerak pemikirannya ialah soal percaya dan mengerti (Glauben und Verstehen). Oleh karena itu, ia kemudian menyampaikan gagasan mengenai demitologisasi atau pengupasan mite, sebagai bentuk skeptiknya akan ‘christ-event’ . Ini sebagai argumen Bultmann yang ingin menyajikan berita kristiani sedemikian rupa, hingga hubungan berita itu dengan sejarah dan Allah dikemukakan tanpa dikurangi.  

II. Demitologisasi ala Bultmann
Lahirnya modernisme mendorong pemahaman bahwa Alkitab, terutama mengenai Allah dan tindakannya merupakan sebuah mitologi. Dimulai dari pemahaman lapisan dunia (atas-bawah-tengah) sampai dengan peristiwa yang dialami Yesus, seperti inkarnasi, penyaliban, dan kebangkitan. Berbagai hal yang merupakan adopsi dari mitologi apokaliptik Yahudi dan dari mite gnostik. Disinilah dimulai persoalannya, siapa yang dapat menerima dan percaya begitu saja, dengan hal-hal supranaturalis itu dimana rasionalisme dan sekularisme telah menjadi momok yang menohok manusia. Oleh karena itu, diperlukan demitologisasi. Demitologisasi bukan berarti mereduksi makna dari suatu peristiwa yang dianggap sebagai mitos (model teologi liberal). Lebih dari itu demitologisasi berarti mengupas mite, dan menggali pesan yang ada didalamnya supaya dapat dimengerti.  
Bultmann melihat bahwa apa yang ditawarkan oleh Perjanjian Baru juga harus mengalami demitologisasi. Pengupasan mitologi itu perlu sekali, sebab gambaran dunia manusia sekarang telah berubah. Baginya tugas teologi bukan untuk secara kritis meniadakan mite-mite itu, melainkan untuk menginterpretasikan mite-mite itu secara eksistensial, bukan membuang isi Alkitab, melainkan mengupas kulitnya, mengupas gambaran dunianya yang sudah tidak laku lagi.  

III. Mendemitologisasi Kejadian yang terjadi pada Kristus
Bertolak kepada demitologisasi, maka Bultmann kemudian melihat bahwa kejadian yang terjadi pada Kristus (Christ-event) juga menampilkan terminologi mite. Keberadaan dan kejadian yang dialami oleh Yesus, dalam berita kristiani diidentikkan dengan sejarah penyelamatan. Yesus sebagai inkarnasi dari Anak Allah yang telah turun ke dunia, adalah sebuah penggambaran mitologi. Namun, jangan dilupakan ada fakta historis juga dimana Yesus ternyata diketahui identitasnya, siapa ayah dan ibunya (Yoh 6:42). 
Tidak berhenti sampai disitu, dalam kejadian yang dialami oleh Yesus peristiwa penyaliban yang diikuti oleh kebangkitan merupakan tanda akan penebusan dosa manusia baik yang terjadi di masa lampau dan masa yang akan datang. Dalam kejadian yang terjadi pada Kristus, terjadi perpaduan yang unik antara yang historis dan mistis. Perpaduan antara sejarah dan mitologi ini menjadi anak kunci bagi interpretasi pengupasan mitologi. 
Melihat hal ini, maka kita akan memperhatikan secara khusus kepada kebangkitan. Kebangkitan yang secara rasional tidak dapat diterima begitu saja oleh manusia modern, dinilai penuh mitos dan metafora. Bagaimana Bultmann melihat kebangkitan Kristus?

IV. Kebangkitan: Mendekati Pemikiran Manusia Modern dan Yesus Sejarah 
Kebangkitan Yesus paska penyaliban merupakan sebuah peristiwa lampau yang memiliki makna yang tersendiri. Perjanjian Baru menyatakan kebangkitan Yesus sebagai tanda akan kebangkitan seluruh umat manusia yang menyelamatkan. Ia yang dikirim ke dunia dan bangkit sebagai tindak pembenaran. Kebangkitan dan juga penyaliban merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab kebangkitan itulah pengungkapan tentang pentingnya salib, yaitu bahwa kematian kematian Kristus disalib tidak dapat dipandang sebagai kematian insani.
Kematian di salib itulah penghakiman Allah yang membebaskan, dengannya maka Allah memberikan keselamatan pada dunia serta menciptakan kemungkinan untuk dapat hidup dengan sungguh-sungguh. Kebangkitan Kristus adalah sesuatu hal yang harus dipercaya juga. Kebangkitan merupakan peristiwa menakjubkan yang menampilkan sisi eskatologi akan janji masa depan. 
Pengakuan akan kebangkitan Yesus tersebut, seakan diperkuat dengan disebutkannya saksi mata dalam peristiwa tersebut. Tengok saja dalam Perjanjian Baru, tepatnya di dalam I Kor 15:3-8. Karl Barth kemudian menjelaskan mengenai I Kor 15, bahwa itu bukanlah bukti nyata dari kebangkitan, dengan disebutkannya saksi-saksi mata. I Kor 15 ialah untuk membuktikan bahwa pengajaran dari para rasul tersebut serupa dengan pengajaran kekristenan mula-mula yang menyatakan dan mengimani kebangkitan Yesus.  
Namun, bagi Bultmann kebangkitan yang dialami oleh Yesus bukanlah sebuah peristiwa yaang menakjubkan jika tidak terlebih dahulu mengimani akan Kristus sendiri. Percaya pada kebangkitan berarti percaya pada firman yang sekarang dan saat ini diberitakan kepada kita. Percaya kepada kebangkitan, selayaknya juga percaya kepada salib sebagai suatu peristiwa penyelamatan. Juma’at Agung dan Paskah yang terjadi dalam satu hari. Dalam kehidupan kekristenan, kita tidak hanya berpartisipasi di dalam kematian Kristus saja, tetapi juga kebangkitannya (Roma 6:11). 
Kini peristiwa kebangkitan tidak dapat disebut sebagai kejadian mitos, tetapi bagian dari iman yang menjelaskan akan maksud dari penyaliban itu sendiri, sebagai bentuk penggambaran akan rekonsiliasi Allah dan manusia. Oleh karena itu, ketika kita tidak dapat mengimani hanya sebagian saja dari keseluruhan. Maksudnya, bila kembali kepada kejadian yang dialami Kristus, kita tidak hanya dapat percaya kepada penyaliban saja dengan mengabaikan akan kebangkitannya. Kebangkitan bukan hanya sebagian kecil dari iman, karena di dalam kebangkitan ada janji eskatologi.
Itulah sebabnya Perjanjian Baru nampak jelas tertarik kepada kebangkitan. Paulus dalam bahasa gnostiknya menjelaskan akan makna dari kebangkitan, bahwa kebangkitan Kristus merupakan kebangkitan dari seluruh orang mati yang kemudian penggenapan akan janji dan pemberian terang.  
Dalam hidup kini, khususnya dalam kehidupan kekristenan, kita tidak hanya berpartisipasi di dalam kematian Yesus, tetapi juga kepada kebangkitan-Nya. Berangkat dari pemahaman ini, maka kebangkitan bukanlah sebuah mitologi, tetapi merupakan bagian dari iman yang menjelaskan akan penyaliban itu sendiri. Iman kepada kebangkitan berarti iman kepada penyaliban maka, iman kepada penyaliban berarti iman kepada Kristus sendiri. Tidak mungkin kita dapat terlebih dahulu percaya kepada Kristus, sebelum mempercayai salib.
Karena itulah untuk mempercayai sejarah penyelamatan, kita harus melihat kepada kebangkitan dan penyaliban sekaligus. Kini kita memperoleh dari berita kristiani (kerygma) yang diberitakan. Percaya pada kebangkitan Kristus berarti percaya kepada pada firman yang kini dan disini diberitakan kepada kita. Iman Paskah yang sejati ialah iman yang menemukan arti yang terkandung di dalam firman yang diberitakan. Sebab menurut Bultmann, Yesus benar-benar hadir di dalam di dalam kerygma. Kerygma yang ditujukan kepada para pendengarnya ialah firman yang sebetulnya firman dari Kristus sendiri.  
Kerygma menjadi inti akan ajaran dari Bultmann. Begitu pula mengenai kebangkitan, yang merupakan sebuah pemberitaan akan sejarah penyelamatan yang bersifat eskatologi. Kebangkitan sebagai kerygma berarti pemberitaan kini yang merupakan sapaan, suatu teguran pribadi Allah kepada kita, serta memanggil kita untuk mengambil keputusan. Pemberitaan itu menjadi realitas kini dan disini. Lewat pemberitaan itulah Allah memperkenalkan diri kepada manusia. 

V. Sebuah Refleksi akan Kebangkitan Kristus: Berangkat dari Pemikiran Bultmann
Dunia yang ditinggali dan dihadapi oleh manusia tidak dapat terlepas dari perubahan dan perkembangan. Begitu pula gereja dan teologi yang ada, lahir, dan bereksistensi di tengah-tengah dunia. Dunia modern telah mendorong kepada sekularisme, rasionalisme, dan humanisme. Kenyataan ini ternyata ikut mendorong perubahan berpikir teologis, segala sesuatu hal yang berbau tradisionil dan supranaturalis yang bertolak belakang dengan dunia modern dikritisi. Begitu pula dengan Alkitab.
 Bultmann dengan demitologisasinya mencoba menjadi jembatan antara dimensi iman dan dimensi ilmiah. Dunia modern ikut membentuk cara berteologinya. Apakah ini membantu manusia modern untuk percaya dan mengerti kepada hubungan Allah dan manusia, yang saat itu menjadi perdebatan hangat?
 Melalui demitologisasi, Bultmann sebenarnya berharap agar manusia modern dapat memahami kesemua itu. Namun, pada akhirnya ia terlalu menekankan pada pertemuan pribadi antara Allah dan manusia, sehingga sepertinya ia lupa bahwa Allah sebenarnya bertindak secara keseluruhan. Iman hanya mengenal historisitas bukan histori.
Oleh sebab itu, ketika kejadian yang terjadi pada Kristus (Christ-event) didekati oleh kritik historis, yang tinggal bersisa adalah historisitas pribadi Yesus. Segala kejadian yang terjadi pada Kristus dan kerygma, dijadikan suatu kejadian eskatologis, dimana Allah mengusahakan keselamatan dunia. Akibat dari itu semua, terdapat dualisme, antara Yesus yang historis dan Yesus yang kerugmatis yang secara bersama-sama tidak menjumpai kita. Dengan demikian, hubungan antara Yesus yang hidup di dunia dan Kristus yang diberitakan dihapuskan. Kejadian yang terjadi pada Kristus juga kehilangan sifatnya, Injil yang membawa berita kesukaan. Apa yang menonjol adalah hanya fakta keselamatan belaka.  
 Merefleksikan kejadian yang terjadi pada Kristus khususnya kepada kebangkitan, maka penulis setuju kepada ide yang disampaikan oleh Bultmann bahwa iman kepada Kristus, harus terlebih dahulu melewati proses iman kepada penyaliban dan kebangkitan-Nya sekaligus. Ini sesuatu yang tidak dapat ditawar lagi, karena keduanya merupakan janji akan keselamatan. Tidak bisa kita hanya mengakui kepada penyaliban saja dengan mengabaikan kebangkitan.
 Memang muncul persoalan jika kembali kepada gaya pemikiran modern. Apakah Yesus benar-benar bangkit secara daging, seperti kesaksian di dalam Perjanjian Baru, atau itu hanya merupakan bahasa metafor tradisi Yahudi-Hellenis untuk melegalkan iman keristenan? Ini pertanyaan besar di dalam pendekatan kritik historis. 
Lewat metode kritik historis memang telah banyak membantu pembaca Alkitab dalam memahami Sitz im Leben (situasi historis) dari kitab-kitab yang dibaca, seperti dalam Perjanjian Baru. Sampai batas ini, metode tersebut telah berperan dalam proses penafsiran. Namun demikian, penulis Alkitab dianggap menjadi sama sekali tidak netral, sebab mereka dengan sengaja melibatkan Yang illahi di dalam sejarah (dimensi iman menjadi karakteristik intern dari Alkitab).  
Namun jangan keliru menginterpretasikan kebangkitan, jika berangkat dari pemikiran Bultmann, yang dipersoalkan bukanlah benar atau tidaknya kebangkitan itu terjadi. Merongrong nilai historisnya. Lebih dari itu, sebenarnya adalah apa makna dari kebangkitan itu (lagi-lagi demitologisasi!). Kebangkitan merupakan sejarah penyelamatan, yang menampilkan eskatologi. Sebuah janji pembenaran kepada manusia,baik pada masa kini dan masa yang akan datang. 
Kebangkitan bila dianggap sebagai suatu metafora merupakan sebuah pengkerdilan dan pereduksian akan kebangkitan itu sendiri. Pereduksian akan iman kita kepada Kristus, dan secara tidak langsung pereduksian kepada iman kita sendiri. Berarti kita tidak beriman seutuhnya, karena kita hanya beriman kepada sebagian saja (misal penyaliban) dengan mengabaikan yang lain (kebangkitan). Bagi Bultmann, sebenarnya adalah bagaimana menghadirkan kebangkitan dan penyaliban itu sekarang dan disini. Bahwa ada esensi eskatologi di dalamnya, manusia hanya memerlukan bagaimana pesan teologis itu dapat sampai kepada pembaca Alkitab. Inilah yang disebutkan dengan pemberitaan firman (kerygma), lewat kerygma kebangkitan diperkenalkan kepada manusia, sehingga membangun iman kepada Kristus dengan tidak mendiskerpansi antara dimensi iman dan dimensi ilmiah. 


No comments:

Post a Comment

Post a Comment