Judul yang tampil dalam bentuk pertanyaan di atas menunjuk kepada praktik persembahan di dalam gereja yang dengan demikian sebetulnya mengajak kita –sebagai jemaat- untuk memaknai praktik tersebut secara mendalam. Jika saat ini kita masih berpemahaman, ”memberi persembahan supaya mendapat lagi yang lebih banyak”, maka ini berbanding terbalik dengan Teologi Persembahan yang memberi penekanan, ”memberi persembahan karena sudah diberi terlebih dahulu”. Basis ini menjadi asumsi dalam keseluruhan konsep persembahan, membuat bagaimana seharusnya kita memaknai persembahan. Dalam Kolom Bina minggu ini, kita akan merenungkan berdasarkan Lukas 21:1-4, apakah ciri khas persembahan sejati.
Pertama, persembahan sejati itu memberi tanpa alasan. Ada empat “kekeliruan tindakan” terkait dengan persembahan dan eksesnya. Pertama, banyak orang Kristen memakai kemiskinan sebagai alasan untuk tidak memberi persembahan. Kedua, ada orang miskin yang parahnya, sudah tidak memberi persembahan, masih minta sumbangan dari gereja. Ketiga, ada orang Kristen yang diberi banyak berkat (kaya) tetapi tidak mau memberi persembahan. Paling parah, keempat, orang kaya yang sudah tidak memberi persembahan masih memanipulasi gereja bagi keuntungan sendiri. Inilah keempat “kekeliruan tindakan” persembahan.
Bertolak belakang dengan ini, “si janda miskin” yang tidak disebut namanya ini, malah memberi persembahan tanpa alasan. Sudah janda, miskin lagi. Tapi masih saja memberi persembahan, bahkan persembahan yang amat besar, lebih besar dari orang-orang kaya. Si janda ini memberi persembahan ”dua peser”. ”Peser” dalam bahasa Yunani adalah ”lepton”, mata uang terkecil di antara orang Yahudi. Orang Romawi tidak mengenal dan memakai ”lepton” karena mata uang terkecil mereka adalah ”quadran” (LAI menggunakan istilah ”duit”). Satu ”quadran” sama dengan dua ”lepton”. Berapakah besarnya 1 lepton atau peser jika dikurs ke dalam Rupiah? Berdasarkan Matius 20, upah kerja satu hari adalah 1 dinar. 1 dinar sama dengan 128 lepton. Jika diasumsikan upah kerja satu hari Rp. 30.000,- maka 1 lepton sama dengan Rp. 30.000 bagi 128 yang berarti sama dengan Rp. 234,- Dibulatkan, 1 Lepton / Peser = Rp. 250,-. Berarti, si janda miskin memberi persembahan 2 Lepton, sama dengan Rp. 500,- Dengan tidak memberi persembahan saja si janda miskin sudah susah hidupnya. Ini malah memberi persembahan dan Lukas mengatakan bahwa itu adalah seluruh yang ada padanya.
Kedua, persembahan sejati bermotivasi tulus. Lukas sengaja menempatkan cerita persembahan janda miskin ini di antara cerita tentang ahli Taurat dan orang-orang di Bait Allah. Bagi ahli-ahli Taurat dalam perikop sebelumnya, mereka memanfaatkan agama bagi kemuliaan diri. LAI menggunakan istilah ”suka” tiga kali padahal dalam bahasa Yunani hanya menggunakan istilah ”philo” (cinta) satu kali. Tetapi penggunaan ini bisa dinalar karena membuktikan betapa cintanya ahli Taurat akan kemuliaan diri.
Dalam perikop sebelumnya, dikatakan ahli Taurat suka duduk di ”tempat terdepan” dalam ibadah dan ”tempat terhormat” dalam perjamuan. Kedua istilah ini menggunakan istilah Yunani yang akarnya sama dengan ”protokol”. Istilah protokol dipakai untuk menggambarkan seorang perjabat haruslah mendapatkan layanan terdahulu dan terbaik. Yang dimaksud dengan ”tempat terhormat” dalam perjamuan adalah tempat yang paling dekat dengan pintu di mana pelayan masuk dan melayaninya terlebih dahulu.
Sedangkan dalam perikop sesudah cerita tentang persembahan janda miskin ini, Lukas mencatat tentang orang-orang di Bait Allah yang mengagumi bangunan dan batu yang indah. Orang-orang ini, diduga oleh para penafsir sebagai ornag-orang Lewi / imam-imam yang melayani di Bait Allah. Mereka berstatus sebagai ”hamba Tuhan” tetapi hatinya ”hamba uang”. Memanfaatkan agama bagi kenikmatan dan kepuasan diri.
Kontras ini tajam. Agama bisa dipakai untuk kemuliaan dan kekayaan diri. Tetapi dalam tangan si janda miskin ini, agama dipakai untuk mempertontonkan pengorbanan diri. Cinta kepada manusia dan cinta kepada Allah dipraktekkan dalam agama, dan bukan cinta kepada diri. Motivasinya si janda miskin, hati yang tulus untuk Tuhan bukan untuk diri.
Ketiga, seiring dengan poin ini, kita melihat bahwa konsep persembahan sangat bergantung kepada konsep kita terhadap uang. Dengan kata lain, persembahan adalah ekspresi sikap orang Kristen terhadap uang. Tuhan Yesus mengatakan, ”di mana hartamu berada, di situ hatimu”. Artinya, di sini, konsep kepemilikan. Jikalau harta kita adalah uang, maka kita akan memakai Tuhan bagi uang. Tetapi jika harta kita adalah Tuhan, maka kita akan memakai uang bagi Tuhan. Orang yang mencintai uang, sulit memberi persembahan. Orang yang mencintai Tuhan, mudah memberi persembahan. Si janda miskin ini mencintai Tuhan dan bukan mencintai uang sehingga ia memberi seluruh nafkah yang ada padanya.
Keempat, persembahan sejati itu janji iman. Sebelum memberi persembahan saja, si janda miskin sudah harus beriman untuk kebutuhan hidupnya. Mana ada orang yang dapat hidup dengan 1/128 upah harian. Sedangkan saat ini, dengan 1/3 upah harian, Rp. 9 ribu saja sudah dianggap orang dibawah garis kemiskinan. Berarti, setelah memberi persembahan itu, ia harus beriman kepada Tuhan. Sering kali, kekurangan bukan berarti alasan kita tidak memberi persembahan. Kita belajar beriman dengan memberi persembahan. Mungkin kurang tetapi kita harus memberi persembahan. Hidup kita, diserahkan ke dalam tangan Tuhan.
Kelima, persembahan sejati bukan diukur dari jumlahnya tetapi presentasinya dibandingkan dengan penghasilan. Itu sebabnya, dengan poin ini barulah kita mengerti, mengapa Tuhan Yesus mengatakan persembahan janda miskin lebih besar dari persembahan semua orang kaya, yang dalam catatan Lukas, memberi dalam jumlah besar. Jelas, jika membandingkan nominal, logika cara apapun akan mengakui bahwa persembahan Rp. 1 juta lebih besar dari Rp. 100.000. tetapi jika orang yang memberi persembahan satu juta tetapi penghasilannya 1 miliar berarti Cuma 0,1%. Sedangkan ornag yang memberi persembahan Rp. 100 ribu dari penghasilannya Rp. 300 ribu maka presentasi persembahannya adalah 33%. Berarti persembahan 100 ribu lebih besar 330 kali lipat di bandingkan yang persembahan satu juta. Di mata manusia, persembahan satu juta lebih besar 10 kali lipat dari seratus ribu tetapi dimata Tuhan, yang 100 ribu lebih besar 330 kali lipat dari yang satu juta.
Keenam, persembahan sejati bukan saja diukur dari persembahan memberinya tetapi persembahan sisanya. Tidak berarti kita harus memberi persembahan seratus persen karena hal itu tidak realistis. Tetapi, yang dimaksudkan adalah dengan memberi persembahan, kita jangan sombong seolah-olah persembahan kita besar. Kita tahu bahwa kita memberi terlalu sedikit. Pada waktu si janda miskin memberi, ia memberi seluruh nafkahnya, yakni seluruh yang ada padanya kepada Tuhan.
Ia memberi persembahan bukan supaya mendapat lebih banyak lagi, melainkan memberi persembahan karena mengucap syukur karena telah diberi anugerah oleh Tuhan. Sudahkah atau maukah kita sebagai jemaat berlaku demikian? Kembali diajak belajar kepada “si janda miskin?
Showing posts with label Kolom Bina Jemaat GKI Cianjur. Show all posts
Showing posts with label Kolom Bina Jemaat GKI Cianjur. Show all posts
Wednesday, June 23, 2010
Thursday, March 11, 2010
Sun Go Kong Bertanya Kristenkah Saya?: Menelusur Kontruksi Iman yang Pluralis dalam Menerima “Yang Lain”

Bukan karena genit, centil, atau latah ketika tulisan ini hendak berangkat dari hikayat negeri Tiongkok –mengingat tahun baru Imlek yang akan disambut 1 minggu lagi-. Namun, lebih dikarenakan kerinduan untuk menelusur kontruksi iman Kristen sesuai dengan konteks saat ini. Sudah barang tentu tidak dapat disanggah, momentum terdekat yah… Tahun Baru Cina, jadi tak ada salahnya kan kalo kita belajar sedikit dari kebudayaan Tionghoa? Kita harus bersyukur ketika orang-orang keturunan di Indonesia mengalami pengakuan (recognation) status politis, sosial, dan budaya di negeri yang membesarkannya pasca runtuhnya rezim Orde Baru. Akibatnya, saudara-saudara kita tersebut dapat lebih leluasa merayakan, melaksanakan, bahkan menyelenggarakan pesta-pesta budaya leluhur Jet Lee, Wong Fei Hung, dan Kho Ping Ho.
Hikayat Sun Go Kong yang Mewakili Sifat “Ke-aku-an” Manusia
Tulisan ini bukan ingin mengulas ketiga tokoh kungfu diatas, namun hendak meneropong ke sebuah hikayat negeri cina yang tersiar lama dan tetap abadi dalam bentuk novel kuno karya seorang penulis novel dan puisi terkenal pada Dinasti Ming (1368-1644) yaitu, Whu Che’ng en (1500-1582) yang berjudul “His-yu-chi” (Catatan Perjalanan ke Barat) yang menuliskan suatu kisah berdasarkan cerita perjalanan Hsuan-tsang. Kisah cerita ini kemudian menjadi terkenal dengan legenda Kera Sakti Sun Wu-khung (Sun Go Kong atau Sun Hou-zi). Legenda yang mungkin pernah kita tonton dalam film seri di televisi.
Cerita legenda "Catatan Perjalanan ke Barat" tersebut terdiri dari 100 bab yang dapat dibagi atas tiga bagian utama. Bagian pertama dari tujuh bab menceritakan kelahiran Sun Go Kong dari sebutir telur batu dan memiliki kekuatan mahasakti yang tiada tandingannya sehingga mengacaukan kayangan yang kemudian diturunkan dari kayangan dan dikurung di dalam Wu-hsing-shan (Gunung Lima Unsur Alam) sambil menunggu pembebasannya oleh seorang biksu yang akan melakukan perjalanan ke Barat mengambil kitab suci. Bagian kedua berisi lima bab yang berkaitan dengan sejarah Hsuan-tsang dan tugas utamanya dalam melakukan perjalanan ke Barat. Sedangkan bagian ketiga yang berisi 88 bab sisanya menceritakan keseluruhan perjalanan Hsuan-tsang dengan ketiga muridnya yaitu Sun Go Kong, Chu Pa-chieh, dan Sha Ho-shang
Legenda ini merupakan gambaran kisah perjalanan Hsuan-tsang dengan berbagai kesulitan dari seorang manusia yang selalu diliputi oleh berbagai keinginan dan keserakahan (diwakili oleh Chu Pa-chieh), kebodohan batin yang merupakan refleksi karakter manusia yang lemah dan selalu membutuhkan dorongan semangat (diwakili oleh Sha Ho-shang), kesombongan, keegoisan dan pikiran yang liar (diwakili oleh Sun Go Kong). Dia adalah kera nakal yang tak pernah diam. Selalu bergerak ke sana dan ke sini dengan begitu cepatnya. Kalau sudah tidak bisa dikendalikan oleh biksu Tong (Hsuan-tsang), maka akan diperingati terlebih dahulu, tapi kalau masih nakal maka akan dibacakan mantra pemberian Avalokitesvara Bodhisattva.
Sedangkan biksu Tong sendiri menggambarkan suatu kesadaran bahwa setiap tindakan akan ada akibatnya. Tidak kalah pentingnya adalah jubah yang dikenakan oleh biksu Tong, merupakan suatu simbol perlindungan kesucian dari sifat dasar manusia. Jubah ini dikisahkan banyak memberikan perlindungan kepada biksu itu dari segala gangguan siluman yang mencoba membinasakannya ataupun menggodanya. Sedangkan Pai-Ma (kuda putih) hanyalah merupakan pelengkap cerita saja dan tidak mewakili apa-apa.
Demikianlah karya sastra kuno yang berasal dari kehidupan pada jaman dahulu, memiliki makna nilai yang lebih dalam kehidupan, dan semua ini merupakan pengetahuan bersama secara umum. Dan yang membuat orang merasa takjub adalah bahwa pada jaman yang belum maju di masa itu, malah terdapat penuturan tentang "sehari di langit, setahun di bumi" dalam catatannya. Semua ini mungkin merupakan catatan karangan yang paling dini tentang pengetahuan manusia terhadap ruang dimensi lain alam semesta. Manusia dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, telah berubah semakin rumit, kesadaran dan pemikirannya sesudah lahir bagaikan kotoran yang semakin ditumpuk semakin tebal, membentuk zat-zat hitam yang semakin lama semakin keras. Naluri dan watak pembawaan manusia yang polos dan baik, telah dibelenggu. Akibatnya, manusia cenderung bersikap egois, emosional, dan sentimentil dengan antipati kepada “yang lain”. “Yang lain” yang dimaksud dalam tulisan ini adalah siapa-siapa yang dirasa berbeda oleh kita, baik dari status sosial, budaya, bahkan agama.
Sebuah Telusur Refleksi Iman Sosio-Kultural yang Pluralis
Sesuai dengan tema minggu ini: “Melepas Masa Lalu, Hidup Secara Baru”, maka kita diajak untuk hidup baru, memiliki kacamata yang berbeda, berperspektif dan berparadigma iman yang terus dibaharui, dengan meruntuhkan arogansi layaknya Sun Go Kong, melepaskan keserakahan ala (maaf…) si babi Chu Pa-chieh atau kebodohan dari Sha Ho-shang dan lebih bersifat cerdik dalam menghadapi hidup ini.
Seringkali sebagai orang-orang Kristen, kita malah sering terbentur dan tidak mampu berdialog / menerima “yang lain”, karena memilki sifat-sifat “ke-aku-an” yang begitu kuat. Misteri Allah sesungguhnya memang telah dinyatakan lewat inkarnasi Yesus dalam Kristus, hal itu tidak dapat dihilangkan. Akan tetapi Misteri Allah tidak dapat melekat pada diri kita saja tanpa disalurkan, Misteri Allah tidaklah sederhana tetapi plural (bekerja dalam berbagai bentuk yang tidak dapat dibatasi oleh kehendak manusia). Inilah isi terdalam dan pengajaran Kristen mengenai Trinitas. Keilahian tidak hanya dapat difenisikan satu, karena Allah tidak terbatas dan tidak dapat didefinisikan. Kasih Allah sendiri tidak terbatas, secara universal menekankan kasih terhadap semua manusia, dimana manusia juga harus memanifestasikan kasihnya juga kepada sesama.
Oleh karena itu dalam konteks masyarakat pada saat ini, keunikan (sosial dan budaya) perlu ditinjau kembali. Berbicara mengenai ortodoksi (ajaran yang dinggap benar) dalam iman Kristen tidaklah terlepas dari bahasa Perjanjian Baru mengenai Yesus, salah satunya mengenai gelar yang diberikan kepada Yesus seperti Anak Allah, Penyelamat, dan Sabda Allah. Gelar-gelar tersebut tampaknya menempatkan Yesus dalam kategori superior. Akan tetapi, kini kita harus melangkah lebih lagi dari ortodoksi menuju ortopraksis (tindakan benar). Gambaran Yesus sebagai superior adalah bahasa aksi atau bahasa performatif. Kita harus mengikuti dan bertindak seperti Yesus, yang justru tampil tidak mendominasi, non-subordinatif, justru penuh kederhanaan menerima semua orang dari kelas sosial-budaya manapun. Namun seringkali kita lebih seperti Sun Go Kong dkk. yang nyatanya keluar dari keserhanaan? Sehingga, masih gagah tidak yah kalau kita ‘ngaku orang kristen tapi tak berlaku seperti pengajaran Kristus?
Sabda Allah dalam Yesus bersifat universal, tidak hanya bagi tertutup bagi diri kita saja tetapi bagi semua orang sepanjang jaman. Dengan kata lain mengenal Yesus Kristus berarti merasa bahwa orang-orang lain (dari berbagai status sosial-budaya), perlu mengenal Dia juga. Hal ini berarti bahwa mereka perlu mengakui dan menerima kebenaran yang diwahyukan-Nya (tidak berarti mereka harus dipaksakan menjadi komunitas Kristen –contoh kasus multireligius-).
Inilah yang menjadi garis besar penafsiran kembali mengenai ajaran Kristus, mengenai iman yang pluralis. Dia membawa suatu warta yang universal, menentukan, dan sangat perlu kita aplikasikan dalam konteks majemuk pada saat ini, sehingga kita tidak alergi kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, yang secara status sosial-budaya berbeda (kita yang menganggap sebetulnya, Kristus nggak lho!).
Penutup
Kemajemukan adalah sebuah realitas kini yang tidak dapat dihindari, sehingga kita tidak mungkin menutup mata pada keberadaan yang lain. Sebagai umat Kristen kita tidak dapat lagi terjebak pada partikularitas diri kita. Partikularitas ini akhirnya menutup ke-universalitasan kasih Allah, pekerjaan-Nya dan terutama kedaulatan-Nya. Kita secara arogan pada akhirnya membatasi ketidakterbatasan Allah. Allah itu tersembunyi dan tidak dapat didefinisikan. Kesombongan manusia dalam mendefinisikan-Nya sama saja dengan mereduksi Allah sendiri.
Agar dapat mewujudkan kedamaian dalam dunia yang pluralis adalah dengan mengingat persekutuan trinitas (Allah, Kristus, dan Roh Kudus). Sebagai umat Kristen, maka kita juga dituntut untuk mewujudkan persekutuan yang trinitaris yang bersifat korelasional kepada sesama manusia. Kristus sebagai Juru Selamat satu-satunya (the one and only) tak boleh dipandang secara hurufiah, melainkan sebagai sebuah ungkapan konfesional. Untuk mewujudkan dialog-korelasional menuju pluralisme, maka kita harus beranjak dari perspektif yang teologis-dogmatis menuju suatu perspektif yang teologis-etis. Rasul Paulus dalam Efesus 3:1-13 mengatakan bahwa bukan hanya orang Yahudi yang akan diselamatkan tetapi juga non-Yahudi, jelaslah nilai ke-universalitasan ditekankan. Sebagai umat Kristen hal utama yang perlu dilakukan adalah dengan menghadirkan Kerajaan Allah di dalam dunia (Mat 6:33).
Dengan demikian, kalau dalam pengembaraan hidup, kita masih tampil penuh “ke-aku-an” seperti hikayat Tiongkok si Sun Go Kong tadi: alergi kepada orang dari status sosial lain (prinsip miskin-kaya), budaya dan suku lain, atau agama lain sekalipun, maka kita mungkin perlu lebih sering berkaca kembali kepada Kristus dengan memunculkan pertanyaan, “Kristenkah Saya?” Memang Kristus tidak pernah memaksa seperti paksaan Biksu Hsuan-tsang kepada Go Kong, yang kalau nakal dibaca mantra biar puyeng alias stop nakalnya. Kristus mengajar dan mengingatkan kita dengan kasih, kalau kita tetap “nakal” dan membakang kepada Firman Tuhan, tidak mau berubah, tidak mau lahir baru. Maka kita sebagai “Sun Go Kong” musti bertanya “Kristenkah Saya?”
MENGAPA HARUS SAULUS “SI PEMBANTAI” ITU YANG DIPAKAI TUHAN?!

Dalam setiap kesempatan Pemahaman Alkitab (PA), pertanyaan yang kerap kali muncul ketika mengelaborasi setiap peristiwa yang tercantum di dalam Alkitab adalah “mengapa...?”, “kok bisa...?”, “kok dia...?”, “kok begitu...?”. Intinya kita penasaran atas cara kerja Tuhan yang luar biasa misterius sekaligus menggetarkan (mysterium tremendum et fascinans), tidak dapat dinalar atau dilogikakan, dan kadang (bahkan sering) ‘ngga sesuai dengan kehendak, keinginan, cara pandang atau rancangan kita. Akan tetapi memang semestinya demikian, karena begitu pulalah pengalaman iman Nabi Yesaya yang mengatakan bahwa rancangan dan jalan Tuhan-lah yang akan terjadi terhadap manusia dan bukan sebaliknya (bdk. Yes 55:8).
Saulus yang Bertobat
Kisah pertobatan Saulus di dalam Kis 9:1-19, sudah tentu akrab bagi kita, yang intinya mengisahkan pertobatan Saulus, orang Yahudi dari Tarsus, Asia Kecil, yang dulunya adalah pembantai orang-orang yang mengikut ajaran Kristus. Namun kemudian, Yesus sendiri –secara langsung- kemudian bekerja atas diri Saulus dalam peristiwa perjalanan ke Damsyik, yang membawa Saulus ke dalam pertobatan, setelahnya ia lebih dikenal sebagai Rasul Paulus. Melihat kisah ini pertanyaan yang senada agaknya akan muncul, yakni: “mengapa harus Saulus “si pembantai” itu yang dipakai Tuhan? Apa ‘ngga ada orang lain yang lebih saleh dan lurus hidupnya?
Yesus Menolong Saulus dengan Cara-Nya
Dalam peristiwa perjalanan ke Damsyik nampaklah sebuah siratan konfrontasi antara Yesus dengan Saulus. Yesus menampakkan diri kepada Paulus dalan kemuliaan dan kuasa-Nya yang berdaulat. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan Saulus akan ketidakberdayaannya dihadapan Allah. Yesus kemudian membongkar kesalahan dari Saulus, dengan sebuah pertanyaan dakwaan: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawaban Yesus yang mengatakan: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” menjadi sebuah ledakan dahsyat dalam diri Saulus. Mengapa? Karena Saulus adalah orang yang taat beragama, yang menjalankan hukum Taurat dengan penuh kesungguhan (Flp 3:4-6). Saulus sadar bahwa tindakannya yang membantai orang-orang pengikut ajaran Kristus, dengan motivasi membungkam “kebohongan publik” mengenai kebangkitan Kristus adalah sebuah tindakan keliru. Berita kematian Kristus yang ditiupkan pemimpin agama ternyata keliru, karena ia sendiri telah bertemu langsung dengan Yesus yang telah bangkit.
Mengubah dan Memakai “Si Pembantai”
Yesus sudah mempunyai rencana-Nya yang indah bagi kehidupan Saulus. Yesus berkata kepada Ananias yang diutus-Nya untuk melayani Saulus, bahwa Saulus adalah “alat pilihan-Nya” untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Tidak main-main, Allah bahkan sudah memilih dia sejak dalam kandungan ibunya, dan mempersiapkan dia melalui berbagai kesempatan pendidikan dan pengalaman untuk mempersiapkan dia menjadi seorang pelayan yang berkualitas. Dalam rencana-Nya Tuhan bahkan membiarkan Saulus mewujudkan puncak dari kesalahan tindakannya, yaitu penganiaya yang ganas terhadap umat tebusan-Nya. Program-Nya ialah untuk “meremukkan” Saulus, membentuk dia menjadi seorang manusia baru.
Tuhan telah mengubah hidup Saulus secara total. Perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit menjadi titik balik kehidupannya. Sejak itu, Tuhan telah mengubahnya dari seorang penganiaya jemaat menjadi seorang gembala yang setia dari jemaat Tuhan; dari seorang yang memiliki keagamaan yang natural dan terperangkap dalam kepalsuan agama menjadi seorang manusia baru yang memiliki keagamaan yang penuh kesejatian dalam Kristus. Di kemudian hari kita mendapati Paulus sebagai seorang yang memiliki integritas yang murni, seorang pelayan Injil yang setia, seorang penjabar kebenaran Injil Kristus yang cemerlang, seorang misionaris Kristus yang dipakai secara luar biasa untuk memenangkan banyak orang dan wilayah penting bagi kerajaan Allah. Paulus mewariskan kepada kita eksposisi Injil dan nasihat pastoral, dan teladan kehidupan serta pelayanan yang begitu berharga. Siapa sangka “si pembantai”, “pendosa” itu yang justru dipakai Tuhan?
Permenungan
Bertolak kepada judul di atas : “Mengapa Harus Saulus “Si Pembantai” itu yang dipakai Tuhan? Kita mendapatkan jawaban dari kisah pertobatan Saulus, bahwa kedaulatan Tuhan tidak bisa kita intervensi, Dia yang memiliki hak untuk memilih, memakai, dan menggunakan seseorang sebagai alat-Nya dalam memberitakan Kerajaan Allah. Sehingga, “si pembantai” Saulus kemudian diapakai sebagai alat Tuhan yang memenangkan jiwa banyak orang. Bahkan banyak sejarawan mencatat dan mengambil kesimpulan, bahwa keristenan menjadi sangat berkembang melalui peran Rasul Paulus.
Dalam kehidupan keseharian kita di dalam keluarga, gereja, dan masyarakat, kita cenderung “berani” mengambil hak intervensi Allah, dengan menghakimi orang lain atas dasar kacamata kita. Bukankah dengan demikian kita menjadi tidak sadar atas perbedaan kualitatif kita dengan Allah? Bahkan mungkin kita menjadi lebih bergaya “sok Hakim” ketimbang Yesus “ Sang Hakim Agung” itu. Kalau demikian, tepatlah kita seperti yang dipertanyakan oleh Yesus dalam Matius 7:3 : “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”
Selayaknya kita belajar kepada cara Yesus menolong Saulus, yakni dengan sebuah tindakan pastoral yang memanusiakan manusia: menyadarkan diri Saulus dan memberikan kepercayaan dalam menjalankan tugas memberitakan Firman Allah. Kalau hal ini terjadi di dalam kehidupan kita, maka kehidupan kita akan menjadi semakin indah, dengan “berjoget”, dan “bergoyang” bersama dalam sebuah persekutuan yang rukun (Mzm 133).
Friday, February 26, 2010
“SEYA SEYO SIBYE!”: IMAN TRINITATIS (PERICHORETIC COMMUNION) MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH

Tepat minggu ini kita akan mulai memasuki rentetan minggu-minggu Pra-Paskah untuk kemudian dilanjutkan dengan perayaan Juma’at Agung dan Paskah dengan menggumuli tema: “KASIH KRISTUS MERUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH.” Tema yang diusung ini berangkat dari sebuah kerinduan terjadinya pemulihan relasi antarsesama dalam kehidupan setiap umat manusia, karena (sadar atau tidak sadar) manusia seringkali membangun tembok-tembok yang menghalangi terciptanya sebuah relasi yang ideal; baik itu relasi dengan diri sendiri, dengan Tuhan dan dengan sesama (untuk lebih jelas kita dapat membaca selengkapnya di bagian Kata Pengantar buku liturgi Klasis Bandung).
GKI Cianjur khususnya panitia Paskah akan mengejawantahkan tema besar ini dalam berbagai macam kegiatan Paskah, baik umum ataupun lewat badan pelayanan. Tentu renungan ini bukan ingin membahas dengan detil setiap rincian kegiatan di jemaat kita, namun ingin sedikit melakukan elaborasi teologis berkenaan benda-benda dekoratif yang akan bermunculan disekitar ibadah dan kegiatan Paskah. Tujuannya sudah tentu agar kita semua sebagai warga jemaat dapat paham betul: “apa sih tujuan dan makna dekorasi masa Paskah tahun ini?!” Jadi, berbagai dekorasi dan tetek bengek-nya (yang mungkin kita lihat bagus atau juga biasa saja) tidak sekadar sebagai parade keindahan, sempalan dari inti masa Paskah, atau penyedap tambahan ala masako, ajinomoto, dkknya agar kelihatan kalau GKI Cianjur tuh juga heboh dalam memasuki masa Paskah, tetapi sebetulnya memilki makna teologis yang mendalam berkenan dengan pesan Paskah dan tema yang kita gumuli.
Di halaman muka buku liturgi Klasis disebutkan tembok-tembok pemisah (8 sifat) yang kerap kali muncul sebagai penghalang dalam relasi manusia dengan diri sendiri, Tuhan dan sesama. Delapan sifat atau karakter itu adalah: kemunafikan, peninggian diri, prasangka negatif, kesombongan, ketidak-sabaran, egoisme, keraguan, egosentrisme, dan men-tuan-kan diri. Dalam dekorasi Paskah tahun ini di jemaat kita, ada sesuatu yang menarik yang muncul yakni corak-corak batik dari berbagai daerah yang mengelilingi salib. Apa maknanya ya, kombinasi batik ini dengan pesan dan tema Paskah tahun ini? Sekali lagi ini bukanlah sekadar pemanis!
Ada delapan buah batik dari berbagai daerah yang saling berhubungan, saling berdekatan, dan saling menempel satu sama lain di kitaran salib. Boleh dikatakan ini merupakan representasi dari delapan tembok pemisah yang sebelumnya telah disebutkan di atas. Dengan demikian, makna dekorasi ini sebetulnya tidaklah jauh berbeda atau boleh dikatakan sama dengan tema Paskah: “KASIH KRISTUS MERRUNTUHKAN TEMBOK PEMISAH” tetapi lebih dibahasakan secara simbolik dengan gaya artistik dengan tujuan untuk meruntuhkan spirit kompartementalisasi (semangat pengkotak-kotakan dan bentuk pengelompokan yang kompetitif).
Seya seyo..sibye... adalah sebuah tarian dan nyanyian ungkapan situasi kebersamaan antara sesama suku di Papua yang saling menghormati (Maaf…ini tidak lebih dari sekadar contoh bukan untuk menunjukkan sentimen chauvinisme atau malah menjadi terjebak ke dalam kompartementalisasi. Sekali lagi…ini contoh lho!) Diversitas adalah warna khas Papua yang dimanifestasikan dalam bentuk suku dan bahasa. Setidaknya ada 400 lebih bahasa suku di Papua yang beranekaragam, tetapi dengan semangat persatuan dan “sentimen tanah ke-Papua-an”, keanekaragaman itu dapat diminimalisir dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini jugalah yang semestinya kita terapkan sebagai spirit dan gaya hidup di jemaat kita, sehingga kita dapat merefleksikan pesan Paskah dan tema-nya secara nyata dalam kehidupan iman yang holistik. Dengan memilki semangat persatuan dalam satu tubuh Kristus, kita diingatkan untuk tidak malah mencerai-beraikan tubuh-Nya, menyalibkan-Nya untuk kedua kali, dengan sibuk mengelompokan diri dan saling menjatuhkan dalam kehidupan berjemaat!!!
Oleh karena itu, permenungan ini ingin mengajak kita merefleksikan kesatuan kita (sebagai jemaat) dalam Tubuh Kristus dengan tolak reflesi teologis kepada iman Trinitatis –dalam hal ini konsep perichoretic communion-. “Perichoretic communion” artinya ketiga pribadi ilahi yang membentuk persekutuan dalam hubungan timbal balik dan kebersamaan. Dengan konsep Trinitas berarti, Allah tidak bersifat “satu arah.” Allah merupakan suatu persekutuan kasih. Di dalam Allah Trinitas tidak ada tiga kenyataan terpisah, berdasarkan eksistensialnya, yang kemudian menjalin hubungan. Kesatuan Allah merupakan kesatuan tiga pribadi yang saling memberikan kehidupan ilahi dan dalam saling memberi tersebut mereka tetap berbeda tetapi satu sepenuhnya (una substantia, tres personae).
Konsep iman Trinitatis menyatakan manusia adalah gambar Allah Tritunggal. Artinya, hidup manusia berada dalam ruang ketritunggalan. Dengan demikian, eksistensi manusia sendiri berkembang dan menjadi dinamis, tidak dalam ruang kaku dan statis. Oleh sebab itu, sebagai gambar Allah, manusia “dipanggil keluar” oleh Allah. Dalam bahasa latin istilah “dipanggil keluar” adalah pro-vocare, yang dapat diterjemahkan sebagai tantangan atau gugahan. Dari perspektif teologi itu, manusia juga menerima tantangan atau gugahan dari Allah.
Pemanggilan Allah tampak dalam sejarah manusia dengan Allah seperti yang tertuang di dalam teks Kitab Suci. Dalam perjalanan sejarah itu, Allah berulang kali memprovokasi, menantang, dan menggugah manusia, sehingga identitasnya tampak bagi dirinya dan orang lain. Upaya provokasi yang dilakukan Allah terhadap manusia tidak melulu dengan cara yang sama. Ia menampilkannya dalam bentuk kekuatan dan kelemahan, dalam hukuman dan anugerah. Melalui provokasi yang majemuk ini Allah menjadikan manusia sebagai makhluk yang majemuk pula.
Konsep iman Trinitatis melahirkan relasi horisontal dan vertikal dalam hidup manusia. Sebagaimana yang disebutkan di atas, Allah adalah persekutuan kasih dengan ruang kasih di dalamnya, berarti kepada manusia diberikan ruangan hidup yang serupa. Allah merupakan relasi dalam diri-Nya, karena itu manusia yang diciptakan dalam relasi dengan Allah juga diciptakan dalam relasi dengan orang lain (dimensi horisontal). Manusia selaku “makhluk teologis” merupakan “makhluk sosial” juga.
Manusia tidak diciptakan hanya supaya berbakti kepada Tuhan saja, tetapi ia juga terlibat dengan orang lain. Sebagai makhluk, manusia juga berada dalam dimensi horisontal. Dimensi horisontal itu bukan dimensi yang “non-teologis,” karena dimensi tersebut juga mencerminkan ketritunggalan Allah. Oleh karena itu, manusia perlu melihat sekekelilingnya, masuk dalam pergulatan relasional dengan mengkontekstualisasikan dirinya, mengadakan relasi secara terus-menerus dengan Allah dan sesama manusia.
Dari penjelasan di atas jelaslah, dengan bertolak dari konsep iman Trinitatis, bahwa relasi dengan sesama manusia merupakan “panggilan” bagi manusia. Sesama yang dimaksud di sini bukanlah subjek yang berada di luar, melainkan telah ada bersama-sama dengan kita. Dengan kata lain, manusia adalah makhluk yang dipanggil untuk menanggapi kehadiran orang lain. Sehingga dapat disimpulkan, bertolak dari fondasi iman Kristen, intersubjektivitas adalah dimensi fundamental manusia dan inilah yang harus tercakup dalam corak teologi. Maka, gereja, secara umum dan jemaat GKI Cianjur, secara khusus, memiliki tantangan untuk mengaplikasikannya.
Sebab kalau kita belajar kepada Yesus Kristus, justru model dikotomi "miskin" ala kompartementalisasi itulah juga yang dilawannya. Terlepas dari problematika hermeneutis biblis, Yesus semasa hidupnya jelas-jelas melawan dan mendobrak kotak-kotak sosial-budaya di masyarakat Yahudi yang terdiri dari status sosial atau status keagamaan. Bagi Yesus, semua manusia adalah imago Dei artinya serupa dan segambar dengan Allah. Manusia sama kedudukannya di hadapan Allah. Demikian pula diantara sesama manusia. Sungguh arogan dan melangkahi Allah, jika manusia membedakan sesamanya lewat sikap pengelompokan masal dan saling menjatuhkan.
Hal ini pula yang dikatakan Paulus kepada jemaat di Galatia untuk senantiasa memiliki persatuan sebagai tubuh Kristus dengan tidak membeda-bedakan. Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu adalah satu di dalam Kristus!
Seya seyo sibye…Hai kita sekalian!!...Janganlah ada lagi pembedaan antara sesama anggota tubuh Kristus. Jangan membuat Yesus menangis dan merintih untuk kedua kalinya karena kita salibkan dengan arogansi kemanusiaan kita yang lebih merepresentasikan dunia.
AYO “SUNATAN” “MASAL” !! : Refleksi Tradisi Sunat dan Doktrin imago Dei di Tahun 2010

Membaca judul tulisan ini, mungkin kita berseloroh: “Kok judulnya aneh sekali?!” Memasuki tahun yang baru, runtutan tema dan khotbah di bulan Januari ini begitu kental mengingatkan kita untuk senantiasa mawas dan siap diri memasuki tahun 2010. Perenungan-perenungan yang diangkat sedikit menggambarkan, bahwa tahun ini dan tahun-tahun berikutnya adalah masa ketidakpastian, penuh kekuatiran, bahkan akan muncul berbagai kekerasan. Ada dua kemungkinan yang terjadi dalam situasi ketidakpastian tersebut: pertama, menjadi “sprinter” yang lari dari masalah yang dihadapi; atau kedua, menjadi “orang yang tak tahu berenang” yang sibuk menyelamatkan diri sendiri. Dalam nuansa demikian, tulisan ini justru ingin mengajak kita, yang mengaku sebagai orang percaya, untuk “sunatan” “masal” di awal tahun ini! Lho kok sunatan masal?! Apa hubungannya?
Menurut Perjanjian Lama (PL), sunat pertama-tama mewujudkan tanda rohani, dan kedua mempunyai arti kebangsaan yang mencirikan keanggotaan bangsa Israel. Sunat juga merupakan tanda perjanjian yang dibuat oleh Abraham (Kej 17:10, 11, 13, 14). Sunat juga merupakan tanda kasih karunia Allah buat umat manusia yang menandai penyerahan manusia kepada Allah. Sunat (circumcision) dalam tradisi bangsa Israel kemudian menjadi sesuatu yang penting. Bahkan jika tidak melakukan sunat, maka akan mendapatkan hukuman (Kej 17:14; Kel 4:24, 26), tidak diperkenankan melakukan pernikahan campuran dengan orang yang tidak bersunat (Kej 34:14; Hak 14:3), dan tidak boleh bergaul dengan orang yang tidak bersunat (Kis 10:28; 11:3; Gal 2:112).
Lalu apakah Yesus disunat? Tentu saja Yesus disunat, karena ia hidup dalam tradisi dan kebudayaan Yahudi, sehingga Ia juga mengalami dan menjalani praktik inisiasi budaya Yahudi di dalam kehidupan-Nya. Lalu kapan peristiwa itu terjadi? Kesaksian penulis Injil Lukas (Luk 2:21-40) menyatakan, bahwa Yesus disunat ketika genap berusia delapan hari. Saat itulah juga Ia dibawa ke Yerusalem untuk diserahkan kepada Tuhan, untuk kemudian diberi nama Yesus.
Kalau kita bermain hitung-hitungan matematis menurut kalender Romanum (kalender yang kita sebut Masehi pada saat ini), maka delapan hari sesudah kelahiran Yesus (25 Desember) tepat jatuh pada tanggal 01 Januari. Atau dengan kata lain, setiap kita memasuki tahun yang baru, sebagai orang percaya sebetulnya kita merayakan penyunatan Yesus. Oleh karena itu, memasuki tahun 2010 kita kembali diingatkan untuk memaknai “sunat Kristus” itu.
Dalam Perjanjian Baru dengan tegas dinyatakan bahwa tanpa ketaatan, sunat adalah omong kosong (Rm 2:25-29). Tanda lahiriah dalam sunat akan pudar tanpa menaati perintah-perintah Tuhan (1 Kor 7:18,19), beriman (Gal 5:6) dan ciptaan baru (Gal 6:15). Justru yang diperlukan adalah “Sunat Kristus” berupa “penanggalan akan tubuh” atau sebagian dosa, suatu perbuatan rohani yang tidak dilakukan oleh tangan manusia, suatu hubungan dengan Kristus dalam kematian dan kabangkitanNya, yang dimeteraikan dalam peraturan penerimaan atas Perjanjian baru (Kol 2:11, 12). Sebagai akibatnya, orang Kristen adalah “orang yang bersunat”.
Dalam praktik kehidupan kita kini, maka sebagai “orang yang bersunat” kita kemudian memiliki tanggung jawab, tidak bisa menjadi “sprinter” atau “orang yang tak tahu berenang” tadi. Teologi Kristen harus dijalankan dan dikembangkan dalam kerangka persekutuan hidup beriman (antropologi Kristen). Teologi Kristen mempunyai fungsi dalam jemaat Kristen yang ingin menghayati dan menjadi saksi Injil Yesus Kristus dalam situasi masyarakat yang konkret, karena realitas sosial merupakan locus theologicus, dimana Allah menjumpai dan memanggil kita dalam kenyataan hidup kita sekarang ini.
Ketika kita berbicara mengenai konsep mendasar dari antropologi kristen, maka semua akan bermuara pada konsep imago Dei, yang menyatakan manusia sebagai “gambar dan rupa” Allah (Kej 1:26-27). Secara etimologis terdapat dua kata yang berbeda untuk menyatakan manusia sebagai citra (“gambar dan rupa”) Allah: selem dan demuth (Ibrani); eikon dan homoiosis (Yunani); imago dan similitudo (Latin). Kata pertama: selem, eikon, dan imago, menunjuk kepada representasi, sedangkan kata kedua: demuth, homoiosis, dan similitudo menunjuk kepada kesamaan (adanya hubungan). Doktrin imago Dei, secara eskatologi adalah sebuah konsep antropologi Kristen yang mampu menjelaskan akan jalan manusia untuk mentransformasi hidupnya secara lebih baik, membentuk persekutuan terhadap Allah dan sesama, dan senantiasa mewujudnyatakan kemuliaan Allah di atas dunia (Gloria Dei).
Oleh karena itu ada 5 hal yang ingin ditekankan dalam tulisan ini berkenaan dengan aplikasi doktrin imago Dei dalam relasi “masal” adalah:
1. Recognition (Pengakuan)
Dalam perspektif kristiani, kita tentu menyadari skandalon (batu sandungan) dari dogmatika Kristen selalu ada akan bersama kita dalam mengakui keradaan “yang lain.” Namun, Kis 10:34-35 mengatakan : “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” Dengan kata lain, kalimat ini ingin menegaskan adanya pekerjaan Allah yang tidak terbatas bagi semua orang. Oleh karena itu, gereja sebagai pengemban misi Allah di dalam dunia harus dapat mencitrakan karya Allah tersabut dalam tindakan dan perbuatan, yakni sikap terbuka, menghormati, dan mengakui keberadaan sesamanya.
2. Responsibility (Tanggung Jawab)
Melalui sikap tanggung jawab bersama, maka kita didorong untuk merasa bahwa dimensi sosial dari kepribadian manusia dipersoalkan dan ditantang, melebihi segi sosial yang menyangkut persoalan-persoalan pengelompokan masyarakat. Pada akhirnya, kita akan mempersoalkan secara serius apa yang dimaksud dengan menjadi manusia dalam kondisi saat ini. Oleh karena itu, tanggung jawab bersama yang harus dipikul dalam teologi Kristen adalah menampilkan sebuah teologi yang manusiawi.
Dalam kehidupan gereja, maka melalui tanggang jawab bersama ini, gereja memiliki tugas mewujudnyatakannya. Gereja harus dapat memainkan peran positifnya dalam membantu orang lain dan mengenal kebenaran mereka. Gereja seharusnya dapat menjadi alat yang menyuarakan jeritan sesama yang menderita.
3. Solidarity (Solidaritas)
Kita tidak dapat mengelak untuk mendengar panggilan dari sesama manusia. Sikap solidaritas yang sejati dapat kita pelajari dari Yesus Kristus, sebagai manusia yang telah membuka diri terhadap sesamanya. Dia seperti orang Samaria yang murah hati, yang tidak memandang bulu, tetapi menjadi sesama untuk yang terluka. Yesus Kristus juga mengalami tindakan sesamanya dengan menerima kekerasan dan penindasan. Dia selalu melihat dalam diri orang lain, pada orang-orang yang memanggil dan membutuhkan Dia. Dengan sikap solidaritas, kita sebagai individu maupun kolektif, ditantang untuk senantiasa memandang orang lain dengan “meminjam mata Yesus.”
4. Mutuality (Mutualitas)
Konsep mutuality direfleksikan melalui sikap hidup Yesus yang menghancurkan dinding kotak-kotak sosial. Kita telah mengetahui bahwa di dalam tradisi Yahudi terdapat pemisahan antara orang Yahudi dan orang Samaria. Yesus melampaui pengkotakan etnis tersebut, sebaliknya Ia malah mengangkat orang Samaria “yang murah hati” sebagai puncak agape. Di dalam Yoh 4:7, Yesus “berani” membuka percakapan dengan seorang perempuan Samaria yang notabene diremehkan oleh tradisi Yahudi. Hal ini berarti, rintangan-rintangan sosial antara bangsa Yahudi dan non-Yahudi hancur di hadapan Yesus. Sikap demikianlah yang hendaknya dilakukan oleh orang-orang beriman kini, dengan berani secara terus menerus membuka relasi dengan sesama.
5. Equality (Kesetaraan)
Kitab Kej 1-26-28 jelas menunjukkan kesetaraan di antara sesama manusia yang menegaskan tidakadanya perbedaan antara “laki-laki” dan “perempuan,” karena keduanya adalah sama-sama ahli waris baik atas citra ilahi maupun kekuasannya atas bumi. Tidak terdapat makna teks yang menunjukkan salah satu dari kedua seks itu lebih besar keserupaannya dengan Allah daripada yang lain, atau bahwa salah satu dari kedua seks itu lebih besar tanggung jawabnya atas bumi daripada yang lain. Dengan demikian, baik “laki-laki” maupun “perempuan” dari awalnya sama-sama merupakan bagian dari karunia Allah, sebab keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah dan serupa dengan gambar-Nya (imago Dei).
Demikian pula Yesus Kristus, yang senantiasa menekankan kesepadanan dalam tindakan dan pengajaran-Nya. Misalnya, di dalam Luk 7:36-50, ketika Ia mengijinkan seorang pelacur mendatangi Dia dari belakang sewaktu hendak duduk makan, membasahi kaki-Nya dengan air matanya, menyeka-Nya dengan rambutnya, dan menciumi-Nya. Yesus menunjukkan kasih kepada perempuan itu, dengan mempertaruhkan diri-Nya terhadap tradisi Yahudi yang melarang pergaulan pria Yahudi dengan perempuan yang dianggap berdosa.
Artinya terdapat hubungan kesepadanan derajat manusia di hadapan Allah, karena kita telah menikmati relasi yang sama terhadap Dia, layaknya Kristus Yesus. Dengan demikian, perbedaan rasial dan sosial tidak menjadi relevan lagi. Sebab semua orang yang beriman kepada Allah, sama-sama diterima, sama-sama merupakan anak-anak Allah, tanpa pengecualian atau pendiskriminasian berdasarkan kelas ataupun kelompok sosial.
Bagi kita, tentu ini sebuah tantangan yang harus terus digumuli di tahun yang baru. Kita harus dapat menjadi pemancar terang kasih Allah, dan menjadi agen perubahan bagi dunia ini. Setelah kita di- “sunat” sebagai bentuk penerimaan anugerah Allah, maka kita juga bertanggung jawab dan siap memiliki semangat “masal” atau relasional di dalam kehidupan yang penuh dengan tidak kepastian ini bukan lari dari masalah atau sibuk menyelamatkan diri sendiri. Sehingga pertanyaan reflektif bagi kita dalam tahun baru ini adalah: “sudah “sunatan” “masal” kah kita ?”
Subscribe to:
Posts (Atom)